Pagi ini aku memakai sepatu baru
hadiah ulang tahun dari ayahku. Aku sangat menyukai sepatu baruku ini. “Dinda
ayo turun sarapan.”teriak ibuku dari lantai bawah. “iya ibu sebentar.”teriakku.
aku segera memasukkan pelajaran hari ini menyisir rambut dan berjalan menuju
ruang makan. “pagi ayah pagi ibu.”ucapku ketika sudah berada di ruang makan.
“pagi sayang.” Ucap ibuku. “pagi juga Dinda. Hari ini kamu
berangkat sama ayah aja kakakmu ada study tour di Bandung.” Ucap ayahku tak
mengalihkan pandangnnya dari Koran paginya itu. “baiklah ayah. Ayo kita
berangkat aku gak mau telat.”ucapku. “ibu aku berangkat dulu.
Assalamualaikum.”ucapku mencium tangan ibu. “waalaikum salam. Hati hati dinda
ayah.” Ucapnya. “siap bos.”jawab kami –ayah dan aku—serempak.
Mereka memasuki
mobil dan berangkat menuju ke sekolahan Dinda. Ayahnya fokus menyetir sementara
Dinda pada hpnya itu. “Din, kapan kamu Ujian Akhir Semester?” tanya ayah masih
terfokus menyetir. “minggu depan yah. Memang kenapa ya?” tanyaku teralih dari
hpku. “kalu kamu mendapat rangking tiga besar ayah akan membelikan motor
untukmu. Kasihan kamu sudah SMA kelas 11 masih di anter aja. Kamu gk malu?
Teman teman kamu kan pada bawa mobil kalau gak motor.” Ucapnya panjang lebar.
“aku gk bisa naik
motor. Lagian enak juga kalau di antar gak capek yah. Aku juga gak mau hadiah
kok yah.” Ucapku. “yasudah kalau kamu gak mau naik motor. Minta aja kalau ada
yang mau dibeli ya Din.” Ucap ayah. “oke yah. Nanti aku minta banyak banget
hehe.” Jawab Dinda cengengesan. “haha kamu ini.” Tawa ayahnya.
Dinda tiba di
depan gerbang sekolah dan berpamitan pada ayahnya. Kemudian dia berjalan menuju
kelasnya di 11 IPA 1 . setibanya di kelas, mereka bertemu teman teman satu
kelas dan akhirnya pelajaran di mulai dengan tenang dan hikmad. Tak terasa
waktu istirahat. Dia keluar bersama Sania menuju ke kantin mengisi perut
kecilnya itu.
Setibanya mereka
di kantin, mereka memesan makanan dan minuman. “San Annisa mana kok tumben gk
ikut ke kantin?” tanyaku. “dia lagi ngerjain pr matematika Din.”jawabnya. “oh
ya aku lupa, kan tadi dia pinjam buku matematika ku buat di salin.” Ucapku sambil
menaruh tangan di dahiku. “dasar pikun.” Tukas Sania. “hehehe ya maaf. Nanti kita
bawain roti sama minum aja kasihan Annisa.” Jawabku. Akhirnya pesanan mereka
datang dan mulai memakan dengan lahap. Setealh itu mereka memebeli roti dan
minum untuk Annisa.
Ketika mereka
tiba di kelas mereka berdua hanya menggeleng kepala melihat sahabatnya ini
serius sekali menyalin pr. “nih.” Annisa berhenti menulis ketika ada seseorang
yang mengajak dia berbicara. “ini buat gue Din?” tanyanya polos. “gak ini buat
pak satpam depan gerbang. Nih ambil buruan dimakan sebelum bel” Jawab kesal. “huwaa
kalian berdua sahabat gue yang paling peka, tau aja kalo aku lagi laper.” Jawabnya
mencomot roti itu. “udah ndang dimakan.”ucap Sania. Annisa hanya terseyum
melihat kedua sahabatnya itu benar benar pengertan padanya.
Bel tanda masuk
berbunyi, seluruh siswa masuk kelas mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ketika
di pertengahan pelajaran Dinda mendapat telpon dai rumah. Dia meminta ijin
keluar dan mengangkat telpon. “halo. Ada apa bi?” tanya Dinda. “i..tu Nyonya sakit.
Nyonya gak mau dibawa ke rumah sakit. Sekarang
non harus kesini non.” Jawab suara dar telpon. Bagai disambar petir mendengar
hal itu. Tanap sepatah katapun dia menutup telpon itu.
Dia masuk ke
kelas dan meminta izin pulang karena orang tuanya sakit. Dia harus meminta izin
pada guru yang menajar, wali kelas dan guru konseling. Memang butuh waktu yang
cukup lama tapi akhirnya dia diperbolehkan pulang. Dia terus berdoa supaya
mamanya baik baik saja. Dia terus berdoa dan menangsi di saat yang bersamaan.
Ketika sampai di
rumah, rumah sangat ramai karena banyak
kendaraan baik mobil dan motor. Apa yang terjadi kok banyak kendaraan jangan jangan
dia langsung menghapus hal yang buruk. Ketika dia membuka pintu semua sangat
gelap tak ada siapa siapa, yang terdengar hanya gema suara Dinda.
“Happy Birthday.”
Suara teriakan dari belakang Annisa. Mama, Ayah, Sania, Dinda semua orang
berkumpul diruamhnya. Dia terkejut bukan main dia lupa kalau dia hari ini ulang
tahun. “ka-lian. Terima kasih.” Ucapnya menangis. “sayang, buat permohonan dan
tiup lilinnya.”ucap Ranti mamanya. Dinda hanya mengangguk dan memulai berdoa. Setelah
itu mereka semua mengucap selamat pada Dinda.
“Happy Birthday
Dinda sayang.” Ucap mereka serempak. “makasih ya san, sa kalian sahabatku yang
terbaik.” Ucapnya memeluk kedua sahabatnya itu. Mereka mengobrol dan
memakankuenya di ruang tamu dan sesekali bercanda melihat muka Dinda tadi.
Dinda tak menyangka mempunyai orang tua dan sahabat yang selalu pengertian dan
sayang padanya. Terimaksih tuhan batinnya.
Cerpen yang bagus 😊
BalasHapuscerpennya bagus
BalasHapuscerpennya bagus
BalasHapusbagusss cerpennya
BalasHapusaaaaeeeee.....
BalasHapusaaaaeeeee.....
BalasHapusBagus sekali cerpennya
BalasHapusBagus sekali cerpennya
BalasHapusbagusssss
BalasHapusbagus sekali..
BalasHapusthx... ka
BalasHapusbisa buat tgas bhs.indo
good story Ke.
BalasHapuskeren
BalasHapusbagussss
BalasHapusSip
BalasHapusJos
BalasHapus