Selasa, 27 September 2016

Ulang Tahun Dinda


Pagi ini aku memakai sepatu baru hadiah ulang tahun dari ayahku. Aku sangat menyukai sepatu baruku ini. “Dinda ayo turun sarapan.”teriak ibuku dari lantai bawah. “iya ibu sebentar.”teriakku. aku segera memasukkan pelajaran hari ini menyisir rambut dan berjalan menuju ruang makan. “pagi ayah pagi ibu.”ucapku ketika sudah berada di ruang makan.

“pagi sayang.” Ucap ibuku. “pagi juga Dinda. Hari ini kamu berangkat sama ayah aja kakakmu ada study tour di Bandung.” Ucap ayahku tak mengalihkan pandangnnya dari Koran paginya itu. “baiklah ayah. Ayo kita berangkat aku gak mau telat.”ucapku. “ibu aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”ucapku mencium tangan ibu. “waalaikum salam. Hati hati dinda ayah.” Ucapnya. “siap bos.”jawab kami –ayah dan aku—serempak.



Mereka memasuki mobil dan berangkat menuju ke sekolahan Dinda. Ayahnya fokus menyetir sementara Dinda pada hpnya itu. “Din, kapan kamu Ujian Akhir Semester?” tanya ayah masih terfokus menyetir. “minggu depan yah. Memang kenapa ya?” tanyaku teralih dari hpku. “kalu kamu mendapat rangking tiga besar ayah akan membelikan motor untukmu. Kasihan kamu sudah SMA kelas 11 masih di anter aja. Kamu gk malu? Teman teman kamu kan pada bawa mobil kalau gak motor.” Ucapnya panjang lebar.

“aku gk bisa naik motor. Lagian enak juga kalau di antar gak capek yah. Aku juga gak mau hadiah kok yah.” Ucapku. “yasudah kalau kamu gak mau naik motor. Minta aja kalau ada yang mau dibeli ya Din.” Ucap ayah. “oke yah. Nanti aku minta banyak banget hehe.” Jawab Dinda cengengesan. “haha kamu ini.” Tawa ayahnya.

Dinda tiba di depan gerbang sekolah dan berpamitan pada ayahnya. Kemudian dia berjalan menuju kelasnya di 11 IPA 1 . setibanya di kelas, mereka bertemu teman teman satu kelas dan akhirnya pelajaran di mulai dengan tenang dan hikmad. Tak terasa waktu istirahat. Dia keluar bersama Sania menuju ke kantin mengisi perut kecilnya itu.

Setibanya mereka di kantin, mereka memesan makanan dan minuman. “San Annisa mana kok tumben gk ikut ke kantin?” tanyaku. “dia lagi ngerjain pr matematika Din.”jawabnya. “oh ya aku lupa, kan tadi dia pinjam buku matematika ku buat di salin.” Ucapku sambil menaruh tangan di dahiku. “dasar pikun.” Tukas Sania. “hehehe ya maaf. Nanti kita bawain roti sama minum aja kasihan Annisa.” Jawabku. Akhirnya pesanan mereka datang dan mulai memakan dengan lahap. Setealh itu mereka memebeli roti dan minum untuk Annisa.

Ketika mereka tiba di kelas mereka berdua hanya menggeleng kepala melihat sahabatnya ini serius sekali menyalin pr. “nih.” Annisa berhenti menulis ketika ada seseorang yang mengajak dia berbicara. “ini buat gue Din?” tanyanya polos. “gak ini buat pak satpam depan gerbang. Nih ambil buruan dimakan sebelum bel” Jawab kesal. “huwaa kalian berdua sahabat gue yang paling peka, tau aja kalo aku lagi laper.” Jawabnya mencomot roti itu. “udah ndang dimakan.”ucap Sania. Annisa hanya terseyum melihat kedua sahabatnya itu benar benar pengertan padanya.

Bel tanda masuk berbunyi, seluruh siswa masuk kelas mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ketika di pertengahan pelajaran Dinda mendapat telpon dai rumah. Dia meminta ijin keluar dan mengangkat telpon. “halo. Ada apa bi?” tanya Dinda. “i..tu Nyonya sakit. Nyonya gak  mau dibawa ke rumah sakit. Sekarang non harus kesini non.” Jawab suara dar telpon. Bagai disambar petir mendengar hal itu. Tanap sepatah katapun dia menutup telpon itu.

Dia masuk ke kelas dan meminta izin pulang karena orang tuanya sakit. Dia harus meminta izin pada guru yang menajar, wali kelas dan guru konseling. Memang butuh waktu yang cukup lama tapi akhirnya dia diperbolehkan pulang. Dia terus berdoa supaya mamanya baik baik saja. Dia terus berdoa dan menangsi di saat yang bersamaan.

Ketika sampai di rumah, rumah sangat ramai  karena banyak kendaraan baik mobil dan motor. Apa yang terjadi kok banyak kendaraan jangan jangan dia langsung menghapus hal yang buruk. Ketika dia membuka pintu semua sangat gelap tak ada siapa siapa, yang terdengar hanya gema suara Dinda.
“Happy Birthday.” Suara teriakan dari belakang Annisa. Mama, Ayah, Sania, Dinda semua orang berkumpul diruamhnya. Dia terkejut bukan main dia lupa kalau dia hari ini ulang tahun. “ka-lian. Terima kasih.” Ucapnya menangis. “sayang, buat permohonan dan tiup lilinnya.”ucap Ranti mamanya. Dinda hanya mengangguk dan memulai berdoa. Setelah itu mereka semua mengucap selamat pada Dinda.

“Happy Birthday Dinda sayang.” Ucap mereka serempak. “makasih ya san, sa kalian sahabatku yang terbaik.” Ucapnya memeluk kedua sahabatnya itu. Mereka mengobrol dan memakankuenya di ruang tamu dan sesekali bercanda melihat muka Dinda tadi. Dinda tak menyangka mempunyai orang tua dan sahabat yang selalu pengertian dan sayang padanya. Terimaksih tuhan batinnya.


16 komentar: